ANTOLOGI PUISI KAWAN AWAK

Abdul Malik, dkk.
ISBN
ISBN dalam proses
Sinopsis

Diksi kawan dan awak dalam bahasa lisan takresmi dan atau bahasa percakapan nonbaku bahasa Melayu, tergolong sangat menarik sekaligus menginspirasi untuk dijadikan karya puisi. Dalam masyarakat Melayu di mana pun mereka bermukim, kedua kata itu dapat mengacu kepada orang pertama dan orang kedua sekaligus.
Ada masyarakat Melayu di daerah tertentu menempatkannya sebagai kata ganti orang pertama. Di tempat lain pula, kata itu merujuk orang kedua dalam percakapan takresmi. Kemenarikannya menjadi bertambah karena kedua kata itu dapat mengacu kepada orang pertama dan orang kedua secara bersamaan. Lagi-lagi keunikannya meningkat ketika kedua diksi itu mengarah kepada kata ganti tunggal dan jamak sekaligus, baik untuk orang pertama maupun orang kedua dalam percakapan lisan takresmi. Dalam hal ini, konteks percakapanlah yang menentukan kata-kata itu mengacu kepada orang pertama dan atau orang kedua, sama ada tunggal ataupun jamak.
Kekhasan, kalau tak mau disebut keunikan, itu untuk percakapan antara orang pertama (penyapa) dan teman orang kedua (pesapa) yang sebaya, bukan dengan orang kedua yang lebih tua usianya. Jika digunakan terhadap orang kedua yang lebih tua usianya daripada orang pertama, nilai kesopanan berbicara telah dilanggar dan hal itu tak akan dilakukan oleh orang Melayu, apa pun masalah dan suasana percakapannya.
Seperti yang telah disebutkan di atas, diksi kawan dan awak yang perannya tergolong unik dalam bahasa lisan takresmi orang Melayu ternyata memang dapat dikembangkan dalam karya puisi dengan pelbagai tema. Oleh sebab itu, puisi-puisi di dalam antologi ini menampilkan beragam gagasan dan pikiran utama. Di antara tema itu adalah tanggung jawab, cinta kasih, keutamaan ilmu-pengetahuan, kejujuran, kemandirian, dan lain-lain, sampai ke tema religius.
Unsur yang melatari puisi juga beraneka ragam. Dari latar adat-istiadat, tradisi, sosial-budaya, sosial-politik, sosial-ekonomi, keyakinan keagamaan, sampai dengan sains dan teknologi. Diksi kawan-awak begitu berkembang di dalam antologi ini. Apatah lagi, setiap puisi dipersyaratkan menggunakan diksi kawan dan atau awak, baik di judul maupun isinya. Jika salah satu persyaratan dilanggar, berarti puisinya tak memenuhi syarat untuk disertakan di dalam antologi ini.
Antologi ini tak semata-mata bagian dari upaya untuk menghimpun dan merekam sajak-sajak yang bernilai baik. Ianya juga menjadi bagian dari upaya pendokumentasian suasana zaman, persahabatan, budaya, dan kehidupan masyarakat Melayu yang terekam di dalam setiap puisi yang dihasilkan oleh para penulisnya.
Diksi dan atau tema kawan dan awak menampilkan suasana dari pelbagai sudut pandang. Di antaranya, kawan dan awak sebagai kenangan masa kanak-kanak, sebagai tempat berbagi suka-duka, sebagai sumber nasihat, sebagai topik perdebatan intelektual, bahkan sebagai persoalan sosial. Oleh sebab itu, penggunaan kedua diksi itu bukan, bahkan tak sama sekali, mengulang satu gagasan, yang telah muncul di dalam puisi sebelumnya.
Sajak-sajak di dalam antologi ini menampilkan kehidupan kampung, sungai, laut, tudung Melayu, kedai kopi, perahu, gunung-gunung, pulau-pulau, dan sebagainya. Hal itu membuatnya merefleksikan identitas geografis dan kultural yang sangat ketara.
Di dalam antologi ini tak hanya teks yang terekam. Bersamaan dengan itu, konteks visualnya disajikan sesuai dengan tema dan suasana sajak. Ilustrasi gambar pantai atau sungai tempat anak-anak bermain, laut dan pulau, perahu dan kapal, pelbagai hewan laut, kedai kopi, taman, dan suasana kehidupan masyarakat, sekadar menyebutkan beberapa contoh, memang disengaja supaya dokumentasi ini dapat dikenang dalam waktu relatif lama. Lebih daripada itu, matlamatnya tiada lain agar puisi yang ditampilkan indah dipandang mata dan mudah diapresiasi oleh semua kalangan pembaca.
Umumnya, sajak-sajak di dalam antologi ini mengedepankan perihal persahabatan, pekerjaan, ekonomi, alam, wilayah dan budaya maritim, identitas Melayu, dan perubahan kehidupan. Dengan begitu, antologi diharapkan dapat menjadi potret kehidupan masyarakat pada zamannya.
Antologi ini berusaha menjaga teks dan ingatan di sebalik teks secara bersamaan. Puisi-puisi tak sekadar menjadi tulisan penghias kertas. Lebih daripada itu, kesemuanya (sajak-sajak di dalam antologi ini) diberi wajah, tempat, suasana, dan konteks yang memang sengaja dirancang sebaik mungkin. Dengan demikian, ianya diharapkan dapat menjadi arsip puitik tentang persahabatan dan kehidupan orang Melayu, khasnya masyarakat pesisir, pada masa lalu dan masa kini. Semoga ianya juga menjadi bagian dari gagasan, pikiran, dan tindakan konkret untuk kehidupan yang lebih baik pada masa depan.